sains tentang termoregulasi

cara tubuh beradaptasi dari salju ke gurun dalam sehari

sains tentang termoregulasi
I

Bayangkan kita baru saja mendarat dari sebuah penerbangan panjang. Belasan jam yang lalu, kita masih menggigil merapatkan jaket tebal di tengah badai salju musim dingin. Sekarang, pintu otomatis bandara terbuka, dan tamparan udara panas yang lembap langsung menyergap wajah kita. Suhu berubah drastis dari minus lima menjadi tiga puluh lima derajat Celcius hanya dalam hitungan jam. Secara logika dasar, mesin mobil saja bisa mengalami overheat atau mogok kalau dipaksa berubah suhu secepat itu. Tapi anehnya, kita tetap hidup. Kita mungkin mengeluh kegerahan, tapi kita tidak jatuh pingsan. Pernahkah kita memikirkan, sihir sains macam apa yang sebenarnya terjadi di balik kulit kita saat momen ekstrem itu terjadi?

II

Kalau kita menengok ke belakang, kemampuan ajaib ini sebenarnya adalah salah satu alasan utama mengapa nenek moyang kita bisa menaklukkan bumi. Sejarah kelangsungan hidup manusia bukan cuma soal menemukan api atau membuat perkakas batu, tapi tentang seberapa tangguh tubuh kita beradaptasi terhadap cuaca. Di dalam otak kita, tepatnya di sebuah bagian kecil sebesar kacang almond, ada pusat komando bernama hypothalamus. Teman-teman bisa membayangkannya sebagai thermostat atau pengatur suhu pintar kelas wahid. Alat biologis ini bekerja tanpa henti, setiap detik, tanpa pernah kita sadari. Tugasnya cuma satu, yaitu memastikan suhu inti tubuh kita selalu stabil di angka 37 derajat Celcius. Tidak peduli apakah kita sedang membuat boneka salju atau tersesat di padang pasir.

III

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh saat kita berpindah dari salju ke gurun dalam satu hari? Di titik ini, tubuh kita sedang melakukan manuver krisis yang luar biasa rumit. Saat kita berada di tempat bersalju, hypothalamus membunyikan alarm darurat pembekuan. Tubuh kita merespons dengan gemetar, atau dalam bahasa sains disebut shivering thermogenesis. Otot-otot kita berkontraksi dengan sangat cepat untuk menciptakan panas buatan. Darah dengan kejam ditarik dari tangan dan kaki, dipusatkan ke organ-organ vital di dada dan perut agar kita tidak mati kedinginan. Tapi, tiba-tiba kita mendarat di tempat yang panasnya membakar. Alarm baru berbunyi dengan liar. Tubuh yang tadinya mengunci panas, sekarang harus membuangnya secepat mungkin sebelum organ di dalam sana mendidih. Bagaimana cara tubuh memutar balik sistem ini secara instan?

IV

Inilah keajaiban sains yang kita kenal sebagai termoregulasi. Saat udara panas menghantam kulit kita di pintu keluar bandara, jutaan sensor saraf mengirim pesan kilat ke otak. Hypothalamus langsung membalik tuas komandonya. Terjadilah proses menakjubkan yang dinamakan vasodilation atau pelebaran pembuluh darah. Pembuluh darah di bawah kulit kita tiba-tiba membuka lebar, membiarkan darah panas mengalir deras ke permukaan kulit agar panasnya terbuang ke udara. Makanya, wajah kita sering terlihat memerah saat kepanasan. Bersamaan dengan itu, jutaan kelenjar keringat terbuka bak pintu bendungan yang dilepas. Keringat keluar, menguap, dan menarik panas tubuh ke udara terbuka. Ini adalah sistem pendingin radiator biologis paling efisien yang pernah ada di alam semesta. Tubuh kita secara harfiah mengubah dirinya dari mode "termos penyimpan panas" menjadi "kulkas pendingin" hanya dalam hitungan detik.

V

Terkadang, kita terlalu sibuk mengeluhkan betapa panasnya cuaca siang ini, atau betapa dinginnya AC di dalam kereta. Kita sering lupa untuk sekadar berterima kasih pada tubuh kita sendiri. Secara psikologis, mengeluh memang sangat wajar karena transisi suhu yang ekstrem itu membuat tubuh kita stres dan kelelahan. Energi kita terkuras habis untuk menjalankan sistem termoregulasi tadi. Tapi mari kita renungkan sejenak. Kita membawa warisan evolusi jutaan tahun di dalam darah kita. Sebuah teknologi super canggih yang membuat umat manusia bisa bertahan hidup di mana saja, mulai dari kutub yang beku hingga gurun yang gersang. Jadi, lain kali saat teman-teman mengusap keringat di dahi setelah keluar dari ruangan yang dingin, ingatlah satu hal. Kita tidak sedang sekadar kegerahan. Kita sedang menyaksikan sebuah mahakarya sains dan sejarah evolusi yang bekerja dengan sempurna di dalam diri kita.